Senin, 16 Mei 2016
ASUHAN INTRANATAL
ASUHAN INTRANATAL PADA KEBIDANAN KOMUNITAS
Asuhan Intranatal
Intranatal
Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dalah pertolongan persalinanyang aman yang dilakukan oleh tenaga kesehatan kompeten, yaitu doktersepesialis kebidanan, dokter umum dan bidan.Tenaga kesehatan yang dapat memberikan pertolongan persalinan kepadamasyarakat adalah dokter sepesialis kebidanan, dokter umum, dan bidan.Pada kenyataan dilapangan, masih terdapat penolong persalinan yang bukantenaga kesehatan, dan dilakukan diluar fasilitas pelayanan kesehatan. Secarabertahap seluruh persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan di fsailitas pelayanankesehatan.
Dengan memberikan asuhan intranatal yang tepat dan sesuai dengan standar, diharapkan dapat menurunkan angka kematian ibu dan bayi
Pendekatan yang membutuhkan kemampuan analisis yang berhubungan dengan aspek sosial, nilai-nilai dan budaya setempat.
Falsafah Ibu Bersalin Di Komunitas
1. Bidan meyakini bahwa setiap individu berhak untuk merasa aman,puas terhadap pelayanan masyarakat.
2. Yakin bahwa proses kehamilan dan persalinan dapat di tingkatkan kualitasnya melalui pendidikan,kesehatan dan intervensi berbentuk dukungan.
3. Asuhan bulin yang berfokus pada kebutuhan individu dan keluarganya baik emosi,fisik dan sosial
4. Asuhan di berikan secara terus menerus yang menekankan pada aspek keamanan menajemen klinis yang sesuai standar.
Tujuan Asuhan Intranatal
1. Memastikan persalinan yang telah direncanakan
2. Memastikan persiapan persalinan bersih, aman, dan dalam suasana yang menyenangkan
3. Mempersiapkan transportasi, serta biaya rujukan apabila diperlukan.
Pelayanan Kebidanan Komunitas
1. Standar pelayanan kebidanan
a. Asuhan saat persalinan
Bidan menilai secara tepat bahwa persalinan sudah mulai, kemudianmemberikan asuhan dan pemantauan yang memadahi, denganmemperhatikan kebutuhan klien, selama proses persalinan berlangsung
b. Persalinan yang aman
Bidan melakukan pertolongan persalinan yang aman dengan sikap sopandan penghargaan terhadap klien serta memperhatikan tradisi setempat.
c. Pengeluaran plasenta dengan penegangan tali pusat
Bidan melakukan penegangan tali pusat dengan benar untuk membantupengeluaran plasenta dan selaput ketuban secara lengkap
d. Penanganan kala II dengan gawat janin melalui episiotomi.
Bidan mengenali secara tepat tanda-tanda gawat janin pada kala II yanglama, dan segera melakukan episiotomi dengan aman untuk memperlancarpersalinan, diikuti dengan penjahitan perineum
2. Persiapan
a. Persiapan Bidan
Sampai saat ini belum ada pendidikan khusus untuk menghasilkan tenagabidan yang berkerja di komunitas. di indonesia pendidikan bidan yang adasekarang diarahkan untuk menghasilkan bidan yang mampu bekerja di desa.Bidan yang bekerja di desa, puskesmas, maupun puskesmas pembantudilihat dari tugas-tugasnya berfungsi sebagai bidan komunitas. Persiapan bidandalam memberikan asuhan intranatal di komunitas adalah harus mempersiapkandiri sebaik-baiknya terutama dari segi kompetensi, sehingga dapat memberikanpelayanan persalinan yang bersih dan aman serta tahu saat yang dapat untuk merujuk kasus-kasus kegawatdaaruratan. Dengan demikian bisa menyelamatkanibu dan bayi dan dapat menurunkan AKI. Persiapan bidan meliputi:
- Menilai secara tepat bahwa persalinan sudah dimulai, kemudianmemberikan asuhan dan pemantauan yang memadai denganmemperhatikan kebutuhan ibu selama proses persalinan.
- Mempersiapkan ruangan yang hangat dan bersih serta nyaman untuk persalinan dan kelahiran bayi.
- Persiapan perlengkapan, bahan-bahan dan obat-obatan yang diperlukandan pastikan kelengkapan jenis dan jumlah bahan-bahan yang diperlukanserta dalam keadaan siap pakai pada setiap persalinan dan kelahiran bayi.
- Mempersiapkan persiapan rujukan bersama ibu dan keluarganya. Karena jika terjadi keterlambatan untuk merujuk ke fasilitas yang lebih memadai dan membahayakan keselamatan ibu dan bayinya. Apabila itu dirujuk,siapkan dan sertakan dokumentasi asuhan yang telah diberikan.
- Memberikan asuhan sayang ibu, seperti memberi dukungan emosional,membantu pengaturan posisi ibu, memberikan cairan dan nutrisi,memberikan keleluasan untuk menggunakan kamar mandi secara teratur,serta melakukan pertolongan persalinan yang bersih dan aman denganteknik pencegahan infeksi
b. Persiapan rumah dan lingkungan
Ruangan atau lingkungan dimana proses persalinan akan berlangsung harus memiliki:
a. Tersedia ruangan yang bersih dan layak
b. Terdapat sumber air bersih, air panas dan air dingin
c. Tersedianya penerangan yang baik, ranjang sebaiknya diletakan ditengah-tengah ruangan agar mudah didekati dari kiri maupun kanan,dan cahaya sedapat mungkin tertuju pada tempat persaalinan.
d. Terdapat fasilitas telepon yang bisa diakses untuk menghubungi ambulan jika diperlukan saat melakukan rujukan atau tersedianya mobil yang bisadigunakan saat diperlukan untuk merujuk.Persiapan untuk mencegah terjadinya kehilangan panas tubuh berlebihan,perlu disiapkan juga lingkungan yang sesuai bagi bayi baru lahir denganmemastikan bahwa ruangan bersih, hangat, pencahayaan yang cukup dan bebasdari tiupan angin. Apabila lokasi tempat tingggal ibu di daerah pegunungan atauyang beriklim dingin, sebaiknya sediakan minimal 2 selimut, kain atau handuk yang kering dan bersih untuk mengeringkan dan menjaga kehangatan tubuh bayi.
Pada intinya untuk persiapan Rumah dan lingkungan dapat dibedakan menjadi berikut :
- Situasi dan Kondisi
Situasi dan kondisi yang harus diketahui oleh keluarga, yaitu :
a)Rumah cukup aman dan hangat
b)Tersedia ruangan untuk proses persalinan
c)Tersedia air mengalir
d)Terjamin kebersihannya
e)Tersedia sarana media komunikasi
- Rumah
Tugas bidan adalah mengecek rumah sebelum usia kehamilan 37 minggu dan syarat rumah diantaranya :
a)Ruangan sebaiknya cukup luas
b)Adanya penerangan yang cukup
c)Tempat nyaman
d)Tempat tidur yang layak untuk proses persalinan
c. Persiapan alat / bidan kit
Perlengkapan yang harus disiapkan oleh keluarga untuk melakukan persalinan di rumah :
1. Persiapan untuk pertolongan persalinan
· Tensimeter
· Stetoskop
· Monoaural
· Jam yang mempunyai detik
· Termometer
· Partus set
· Heacting set
· Bahan habis pakai ( injeksi oksitosin,lidokain,kapas,kasa,detol/lisol)
· Set kegawatdaruratan
· Bengkok
· Tempat sampah basah,kering dan tajam
· Alat –alat proteksi diri
d. Persiapan ibu dan keluarga
Persalinan adalah saat yang menegangkan bahwa dapat menjadi saat yangm enyakitkan dan menakutkan bagi ibu. Upaya untuk mengatasi gangguan emosional dan pengalaman yang menegangkan dapat dilakukan dengan asuhan
sayang ibu selama proses persalinan. Adapun persiapan ibu dan keluargadiantaranya:
§ Waskom besar
· Tempat/ember untuk penyediaan air
· Kendil atau kwali untuk ari-ari
· Tempat untuk cuci tangan (air mengalir)+sabun+handuk kering
· Satu kebaya (daster)f
· Dua kain panjang, satu untuk ibu dan satu untuk ditaruh diatas alas plastik atau karet.
· BH menyusui
· Pembalut
· Satu handuk
· Sabun
· Dua waslap.
· Perlengkapan pakaian bayi
· Selimut bayi
· Kain halus atau lunak untuk mengeringkan dan membungkus bayi
Intranatal Di Rumah
1. Asuhan Persalinan Kala I
Bertujuan untuk memberikan pelayanan kebidanan yang memadai dalam pertolongan persalinan yang bersih dan aman
Bidan perlu mengingat konsep tentang konsep sayang ibu, rujuk bila partograf melewati garis waspada atau ada kejadian penting lainnya
2. Asuhan Persalinan Kala II
Bertujuan memastikan proses persalinan aman, baik untuk ibu maupun bayi
Bidan dapat mengambil keputusan sesegera mungkin apabila diperlukan rujukan
3. Asuhan Persalinan Kala III
Bidan sebagai tenaga penolong harus terlatih dan terampil dalam melakukan manajemen aktif kala III
Hal penting dalam asuhan persalinan kala III adalah mencegah kejadian perdarahan, karena penyebab salah satu kematian pada ibu.
4. Asuhan Persalinan Kala IV
Asuhan persalinan yang mencakup pada pengawasan satu sampai dua jam setelah plasenta lahir.
Pengawasan/observasi ketat dilakukan pada hal-hal yang menjadi perhatian pada asuhan persalinan kala IV.
Kegawatdaruratan Persalinan
a. Jangan menunda untuk melakukan rujukan
b. Mengenali maslah dan memberikan instruksi yang tepat
c. Selama proses merujuk dan menunggu tindakan selanjutnya lakukan pendampingan secara terus menerus
d. Lakukan observasi Vital Sing secara ketat
e. Rujuk segera bila terjadi Fetal Distress
f. Apabila memungkinkan, minta bantuan teman untuk mencatat riwayat kasus dengan singkat
DAFTAR PUSTAKA
- Meilani,niken.2009.kebidanan komunitas.yogyakarta:FITRAMAYA
- Rinjani M.Mid dkk.2010 penerbit buku kedokteran
Sabtu, 14 Mei 2016
Cara Menyusui Yang Benar
1. Tetekkan bayi segera atau selambatnya setengah janin setelah bayi lahir. Mintalah kepada bidan
untuk membantu melakukan hal ini.
2. Biasakan mencuci tangan dengan sabun setiap kali sebelum menetekkan.
3. Perah sedikit kolostrum atau ASI dan oleskan pada daerah putting dan sekitarnya.
4. Ibu duduk atau tiduran / berbaring dengan santai.
5. Bayi diletakkan menghadap ke ibu dengan posisi:
- Perut bayi menempel keperut ibu.
- Dagu bayi menempel ke payudara.
- Telinga dan lengan bayi berada dalam satu garis lurus.
- Mulut bayi terbuka lebar menutupi daerah gelap sekitar putting susu.
6. Cara agar mulut bayi terbuka adalah dengan menyentuhkan puting susu pada bibir atau pipi bayi.
7. Setelah mulut bayi terbuka lebar, segera masukkan puting dan sebagian besar lingkaran/daerah
gelap sekitar puting susu ke dalam mulut bayi.
8. Berikan ASI dari satu payudara sampai kosong sebelum pindah ke payudara lainnya.
Pemberian ASI berikutnya mulai dari payudara yang belum kosong tadi.
Cara Melepaskan Puting Susu dari Mulut Bayi
Dengan menekan dagu bayi ke arah bawah atau dengan memasukkan jari ibu antara mulut bayi dan payudara ibu.
Cara Memeras ASI dengan Tangan
Bidan menganjurkan pada Ibu untuk mencuci tangan terlebih dahulu. Setelah itu :
1. Duduklah Ibu seenak/senyaman mungkin.
2. Pegang/letakkan cangkir dekat dengan payudara Ibu.
3. Letakkan ibu jari pada payudara diatas puting susu dan areola (bagian lingkaran hitam berwarna
gelap pada payudara) dan jari telunjuk dibawah payudara, juga dibawah puting susu dan areola.
4. Tekan ibu jari dan telunjuk kedalam, kearah dada. Ibu tidak perlu menekan terlalu keras, karena
dapat menghambat aliran air susu.
5. Kemudian tekanlah payudara Ibu kebelakang puting dan areola antara jari telunjuk dan ibu jari.
6. Selanjutnya tekan dan lepaskan, tekan dan lepaskan.
Kegiatan ini tidak boleh menyakiti atau Ibu sampai merasa nyeri.
Pada awalnya, mungkin tidak ada susu yang keluar, tetapi setelah dilakukan penekanan beberapa kali, ASI akan mulai menetes keluar.
7. Tekan areola dengan cara yang sama dari arah samping, untuk meyakinkan bahwa ASI di tekan dari
seluruh bagian payudara.
8. Hindari menggosok-gosok payudara atau memelintir puting susu.
9. Peras satu payudara sekurang-kurangnya 3-5 menit hingga aliran menjadi pelan; kemudian
lakukan pada payudara yang satu lagi dengan cara yang sama. Kemudian ulangi keduanya. Ibu dapat
menggunakan satu tangan untuk satu payudara dan gantilah bila merasa lelah. Memeras ASI
membutuhkan waktu 20-30 menit. Terutama pada hari-hari pertama, ketika masih sedikit ASI
yang diproduksi.
10. Simpan.
1. Tetekkan bayi segera atau selambatnya setengah janin setelah bayi lahir. Mintalah kepada bidan
untuk membantu melakukan hal ini.
2. Biasakan mencuci tangan dengan sabun setiap kali sebelum menetekkan.
3. Perah sedikit kolostrum atau ASI dan oleskan pada daerah putting dan sekitarnya.
4. Ibu duduk atau tiduran / berbaring dengan santai.
5. Bayi diletakkan menghadap ke ibu dengan posisi:
- Perut bayi menempel keperut ibu.
- Dagu bayi menempel ke payudara.
- Telinga dan lengan bayi berada dalam satu garis lurus.
- Mulut bayi terbuka lebar menutupi daerah gelap sekitar putting susu.
6. Cara agar mulut bayi terbuka adalah dengan menyentuhkan puting susu pada bibir atau pipi bayi.
7. Setelah mulut bayi terbuka lebar, segera masukkan puting dan sebagian besar lingkaran/daerah
gelap sekitar puting susu ke dalam mulut bayi.
8. Berikan ASI dari satu payudara sampai kosong sebelum pindah ke payudara lainnya.
Pemberian ASI berikutnya mulai dari payudara yang belum kosong tadi.
Cara Melepaskan Puting Susu dari Mulut Bayi
Dengan menekan dagu bayi ke arah bawah atau dengan memasukkan jari ibu antara mulut bayi dan payudara ibu.
Cara Memeras ASI dengan Tangan
Bidan menganjurkan pada Ibu untuk mencuci tangan terlebih dahulu. Setelah itu :
1. Duduklah Ibu seenak/senyaman mungkin.
2. Pegang/letakkan cangkir dekat dengan payudara Ibu.
3. Letakkan ibu jari pada payudara diatas puting susu dan areola (bagian lingkaran hitam berwarna
gelap pada payudara) dan jari telunjuk dibawah payudara, juga dibawah puting susu dan areola.
4. Tekan ibu jari dan telunjuk kedalam, kearah dada. Ibu tidak perlu menekan terlalu keras, karena
dapat menghambat aliran air susu.
5. Kemudian tekanlah payudara Ibu kebelakang puting dan areola antara jari telunjuk dan ibu jari.
6. Selanjutnya tekan dan lepaskan, tekan dan lepaskan.
Kegiatan ini tidak boleh menyakiti atau Ibu sampai merasa nyeri.
Pada awalnya, mungkin tidak ada susu yang keluar, tetapi setelah dilakukan penekanan beberapa kali, ASI akan mulai menetes keluar.
7. Tekan areola dengan cara yang sama dari arah samping, untuk meyakinkan bahwa ASI di tekan dari
seluruh bagian payudara.
8. Hindari menggosok-gosok payudara atau memelintir puting susu.
9. Peras satu payudara sekurang-kurangnya 3-5 menit hingga aliran menjadi pelan; kemudian
lakukan pada payudara yang satu lagi dengan cara yang sama. Kemudian ulangi keduanya. Ibu dapat
menggunakan satu tangan untuk satu payudara dan gantilah bila merasa lelah. Memeras ASI
membutuhkan waktu 20-30 menit. Terutama pada hari-hari pertama, ketika masih sedikit ASI
yang diproduksi.
10. Simpan.
Jumat, 13 Mei 2016
tanda tanda hamil
Tanda-tanda hamil - Semua wanita pasti ingin tau bagaimana terjadinya tanda kehamilan. Karena biasanya tanda-tanda munculnya kehamilan memang sangat di nantikan untuk seorang wanita yang sudah menikah, dengan adanya kehamilan rumah tangga bagaikan diberi sebuah anugerah yang besar oleh Tuhan Yang Maha Esa, selain itu hal ini juga menandakan bahwa pasangan suami istri memiliki tingkat kesuburan yang cukup baik, jika tanda-tanda atau ciri-ciri hamil telah datang, maka buah hati yang didambakan selama ini hanya tinggal menunggu waktu saja, dan rasanya sebuah keluarga akan terasa begitu lengkap dengan kehadiran si buah hati Tetapi ada banyak juga dari pasangan suami istri yang belum mengetahui dengan pasti tanda-tanda kehamilan akan datang. Bahkan ada yang belum bisa membedakan mana yang benar-benar tanda kehamilan dengan tanda-tanda datangnya menstruasi, dikarenakan banyak kasus yang telah terjadi ketika ciri-ciri kehamilan agak mirip dengan ciri-ciri menstruasi. Yang mengerikan jika Bunda tidak tahu tanda-tanda kehamilan adalah dapat menyebabkan terjadinya keguguran. Penyebab keguguran tersebut dapat disebabkan karena Bunda masih saja melakukan aktivitas dan konsumsi makanan yang dilarang pada saat hamil, sedangkan yang terjadi Anda sedang hamil. Selain itu jika Bunda tidak tahu akan datangnya tanda-tanda kehamilan maka persiapan yang matang untuk menyambut kehamilan akan terlupakan. Namun ada sebaliknya dari beberapa pasangan suami istri ada yang kebingungan dan stres disebabkan tanda-tanda hamil yang mereka duga ternyata hasilnya negatif, sehingga hilang dan buyar lah semua bayangan mengenai sang buah hati. Biasanya seorang wanita hanya menilai tanda kehamilan dengan melihat beberapa sebab saja, yaitu menstruasi yang datang terlambat. Hal ini memang dibenarkan, kalau ciri-ciri hamil adalah terlambatnya seorang wanita menstruasi. Namun perlu juga Anda ketahui, menstruasi yang datang terlambat bukan hanya disebabkan oleh kehamilan saja, ada banyak faktor yang dapat mempengaruhi telatnya menstruasi contohnya seperti, kelelahan, gangguan hormonal, stres, dan lainnya. Untuk itu agar Anda bisa memastikan tanda-tanda wanita hamil, baiknya Anda simak dibawah ini. 1. Ukuran Dada Membesar Salah satu tanda-tanda seorang wanita hamil adalah membesarnya ukuran dada, dikarenakan hormon progesteron dan esterogen semakin meningkat. Dan setelah itu tekstur dada juga akan semakin lembut, dan menyebabkan rasa sensitif yang tinggi pada bagian dada, bahkan saat disentuh akan terasa sakit. Puting susu juga akan membesar dan warna puting akan semakin gelap, ditambah rasa gatal. Lalu akan ada peningkatan aktivitas hormon HPL, hormon HPL sendiri di produksi oleh tubuh saat Bunda sedang hamil untuk mempersiapkan ASI untuk buah hati Bunda saat lahir nanti 2. Munculnya bercak darah dan di ikuti kram perut Pada 8-10 hari setelah terjadinya ovulasi biasanya akan muncul bercak darah sebelum menstruasi. Hal ini disebabkan oleh implantasi, bisa disebut juga menempelnya dinding rahim dengan embrio. Nah ini yang sering di salah artikan oleh banyak wanita, karena biasanya bercak darah ini dianggap sebagai menstruasi oleh banyak wanita Biasanya bercak darah ini juga akan mengakibatkan kram pada perut, namun kram pada saat hamil ini bisa terjadi secara teratur, dan bunda akan mengalami kram perut ini sampai masa kehailan trimester kedua. kram ini akan berhenti sampai letak uterus sudah berada ditengah. 3. Mual dan Muntah Hampir semua wanita akan mengalami mual dan muntah saat kehamilan datang. Ini disebabkan peningkatan hormon di dalam aliran darah yang muncul tiba-tiba. hormon ini disebut hormon HCG, bahkan hormon ini juga akan meningkat pada saluran air seni. sebab itulah kehamilan dapat di tes menggunakan test pack. Rasa mual akan terus terjadi sampai masa hamil trimester kedua, ada baiknya segera konsultasikan hal ini pada dokter, karena rasa muntah dan mual ini akan mengganggu proses kehamilan Bunda. 4. Pusing Dan Sakit kepala Faktor fisik dapat menyebabkan gangguan sakit kepala dan pusing pada saat kehamilan, hal ini disebabkan karena rasa mual, lapar, tekanan darah rendah, dan lelah. Selain itu akan terjadi rasa tegang dan depresi. rasa pusing juga bisa disebabkan karena adanya peningkatan pasokan darah ke seluruh tubuh. bahkan hal ini dapat menyebabkan rasa ngantuk yang berlebihan 5. Telat Haid Biasanya jika Bunda sudah telat haid, maka rasa keinginan untuk buang air kecil akan terlalu sering dari sebelumnya, penyebab hal ini karena adanya peningkatan sirkulasi darah yang disebabkan tekanan kandung kemih yang terus menekan rahim. karena kandung kemih telah penuh oleh urine sehingga menyebabkan buang air kecil yang terlalu sering, namun jangan pernah Bunda untuk menahan rasa keinginan buang air kecil ini, selain itu jangan lupa untuk terus minum air 8 gelas perhari untuk menghindari dehidrasi 6. Sering mengantuk Pada masa kehamilan dapat juga menyebabkan rasa kantuk dan lelah, hal ini disebabkan karena adanya perubahan hormonal, tapi bisa juga disebabkan oleh kinerja dari beberapa organ vital salah satunya adalah jantung, paru-paru, dan ginjal semakin meningkat. perut yang kian membesar juga akan sedikit membebani tubuh bunda pada masa kehamilan 7. Sering meludah Sering meludah akan terjadi pada masa kehamilan Anda, hal ini disebabkan oleh perubahan hormon esterogen, hal ini bisa terjadi pada kehamilan trimester pertama, dan biasanya akan menghilang pada masa hamil trimester kedua. 8. Sembelit Hormon progesteron yang semakin meningkat akan menyebabkan rasa sembelit, hormon ini juga akan mengendurkan otot-otot dinding usus dan otot rahim yang pada akhirnya akan menimbulkan rasa sembelit. Tetap hal ini juga dapat menguntungkan Bunda saat masa kehamilan, karena dapat memungkinkan penyerapan nutrisi yang baik untuk tubuh 9. Naiknya temperatur basal tubuh Bila Anda memang benar-benar hamil, biasanya Bunda kan mengalami peningkatan suhu basal tubuh, kondisi ini akan terus terjadi pada masa kehamilan Bunda, bahkan hal ini tidak akan menurun ke kondisi sebelum ovulasi terjadi.
Kamis, 12 Mei 2016
IBU HAMIL DENGAN DIABETES MELITUS (DM) dan upaya yang harus dilakukan
IBU HAMIL DENGAN DIABETES MELITUS (DM)
Diabetes merupakan suatu sindrom klinik yang khas ditandai oleh adanya hiperglikemi yang disebabkan oleh defisiensi / penurunan efektivitas insulin.(1)
Diabetes dalam kehamilan dibagi menjadi 2 macam yaitu diabetes overt (didiagnosa sejak sebelum hamil) dan diabetes gestasional (didiagnosa saat kehamilan).
Diabetes gestasional didefinisikan sebagai intoleransi karbohidrat dengan tingkat keparahan bervariasi dan pertama kali diketahui saat kehamilan. Sebagian besar wanita dengan diabetes gestasional sudah menderita diabetes overt yang belum terdeteksi.
Wanita dapat didignosis diabetes overt jika kadar GDS > 200 mg/dl atau GDP >125mg/dl disertai tanda gejala klasik seperti polidipsi, poliuri dan penurunan BB yang tidak jelas sebabnya. (2)
cek gula darah
Faktor risiko diabetes mellitus gestasional :
§ Keguguran berulang,
§ Riwayat melahirkan bayi dengan cacat bawaan atau anak mati tanpa sebab yang jelas.
§ Pernah melahirkan bayi > 4000 gram
§ Riwayat pre eklamsi
§ Riwayat polihidramnion
§ Usia ibu > 30 tahun
§ Riwayat DM pada keluarga
§ Pernah DMG sebelumnya
§ Infeksi saluran kemih berulang selama hamil.
Pengaruh
s Dalam kehamilan
Abortus,partus prematurus, preeklamsi, hidramnion, kelainan letak, insufisiensi placenta
s Dalam persalinan
Inertia uteri & atonia uteri, distosia bahu karena bayi besar, lahir mati
s Saat nifas
Infeksi nifas, sepsis puerpuralis, menghambat penyembuhan luka jalan lahir.
s Bagi bayi
Cacat bawaan, dismatur, makrosomia, IUFD ( Intra Uteri Fetal Death ), kematian neonatal, kelainan neurologi dan psikologi di kemudian hari.
Upaya yang harus dilakukan agar kehamilan tetap terjaga
1) Check up pra konsepsi
· Pemeriksaan fisik lengkap untuk konfirmasi kebugaran bagi kehamilan
· Pemeriksaan glukosa darah secara intensif
2) Mempertahankan kadar gula darah senormal ungkin sebelum dan sesudah makan
3) Menjaga kesehatan mulut
4) Menghentikan kebiasaan buruk seperti merokok dan minum-minuman beralkohol
5) Menggunakan alat kontrasepsi untuk mencegah kehamilan yang tidak direncanakan
6) Cara diit yang benar ( yaitu jumlah kalori, jadwal diit, dan jenis makanan)
7) Latihan ringan-sedang, teratur setiap hari, tidak boleh latihan berat yang berbahaya
8) Menjaga daerah berbahaya ( potong kuku, tersandung, hindarkan trauma / luka)
9) Tidak boleh menahan kencing (retentio urin memudahkan infeksi saluran kemih)
10) Terapi insulin yang diberikan hanya jika pnatalaksaaan diet tidak secatra konsisten mengatur kadar glkosa plasma < 105 mg/dl (15)
DAFTAR PUSTAKA
1) Brudenell, Michael. 1996. Diabetes pada Kehamilan. Jakarta : EGC
2) Cunningham, F. Gary [et.al..]. 2005. Obstetri Williams. Jakarta : EGC
15) http://bidandesa.com/pengaruh-kehamilan-dengan-diabetes-melitus.html
Selasa, 10 Mei 2016
anemia
A. Latar belakang
Anemia adalah penurunan kadar hemoglobin yang di jumpai selama kehamilan pada wanita sehat yang tidak mengalami defisiensi besi atau folat yang di sebabkan oleh penambahan volume plasma yang relative lebih besar dari pada penambahan massa hemoglobin dan volume sel darah
Sebagian besar perempuan mengalami anemia selama kehamilan, baik di negara maju maupun di negara berkembang. Badan Kesehatan Dunia atau World Health Organization ( WHO ) memperkirakan bahwa 35 - 75 % ibu hamil di negara berkembang dan 18% ibu hamil di negara maju mengalami anemia, diperkirakan 600.000 wanita meninggal dunia setiap tahun akibat komplikasi yang berhubungan dengan kehamilan, persalinan, dan nifas.
Kematian ibu dibagi menjadi kematian langsung dan kematian tidak langsung. Kematian ibu langsung adalah sebagai penyebab komplikasi kehamilan, persalinan, dan nifas, dan segala intervensi atau penanganan tidak tepat dari komplikasi tersebut.
Berdasarkan Survey Demografi Dan Kesehatan Indonesia ( SDKI ) tahun 2007 Angka Kematian Ibu ( AKI ) di Indonesia tertinggi di Asia sebesar 228 per 100.000 kelahiran hidup, meskipun demikian angka tersebut masih tertinggi di Asia. Dapat dibandingkan dengan negara Asia lainnya yaitu pada tahun 2006 seperti Malaysia 30 per 100.000 kelahiran hidup, Singapura 6 per 100.000 kelahiran hidup, dan Vietnam 95 per 100.000 kelahiran hidup. Anonymous, di akses pada tanggal 24 Juli 2012
Sekitar 10% kelahiran hidup mengalami komplikasi perdarahan pasca persalinan. Komplikasi yang paling sering dari perdarahan pasca persalinan adalah anemia. Jika kehamilan terjadi pada seorang ibu yang telah menderita anemia, maka perdarahan pasca persalinan dapat memperberat keadaan anemia dan dapat berakibat kematian. Penyakit yang merupakan penyebab tidak langsung antara lain anemia, malaria, hepatitis, dan tuberkulosis. Pada waktu persalinan, diperkirakan ibu kehilangan darah 1.000 ml tetapi tidak mengakibatkan kematian pada ibu sehat, dan apabila terjadi pada ibu anemia, kehilangan darah kurang dari itu dapat berakibat kematian.
Jumlah kematian ibu yang dilaporkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota di Sulawesi Selatan pada tahun 2009 sebanyak 118 orang atau 78,84 per 100.000 kelahiran hidup. Kematian ibu tersebut terdiri dari kematian ibu hamil ( 19 % ), kematian ibu bersalin ( 46 % ), dan kematian ibu nifas ( 35 % ).
Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kota Makassar periode Tahun 2009 jumlah kematian ibu sebanyak 102 orang, perdarahan 59 orang, hipertensi 31 orang, dan infeksi 12 orang.
Hapsari, http://datinkesulsel. Files. Wordpress.com, di akses tanggal 22 September 2012
Selama kehamilan terjadi anemia berdasarkan factor-factor yang mempengaruhi pembentukan sel darah merah adalah sebagai berikut :
1) Komponen / bahan yang ada pada makanan, yaitu :
a) Protein, Glukosa, Lemak
b) Vitamin B12, B6, C dan Asam folat
c) Elemen Dasar :Fe, Ion, Cu, Zink.
2) Sumber pembentukan darah, yaitu : sum-sum tulang
3) Kemampuan reabsorbsi usus halus terhadap makanan
4) Umur sel darah merah (eritrosit) terbatas sekitar 120 hari, sel-sel darah yang sudah tua di hancurkan kembali menjadi bahan baku untuk membentuk sel darah baru.
B. Rumusan masalah
Dari latar belakang yang telah di kemukakan di atas maka masalah dalam pembahasan ini adalah bagaimana cara mencegah dan menagani anemia dalam kehamilan.
C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Mampu memahami secara umum tentang anemia dan melaksanakan asuhan kebidanan yang komprehensif.
2. Tujuan Khusus
Memahami hal-hal yang berkaitan dengan anemia yaitu :
a) Definisi
b) Klasisfikasi
c) Macam-macam
d) Etiologi
e) Patofisiologi
f) Tanda dan gejala
g) Pencegahan
h) penatalaksanaan
D. Manfaat Penulisan
Adapun manfaat penulisan ini adalah :
1. Sebagai salah satu tugas pada mata kuliah Asuhan Kebidanan lanjut II DIV Klinik PolTekKes Kemenkes Makassar.
2. Sebagai salah satu sumberinformasi/pengetahuan bagi rekan mahasiswa di DIV Klinik PolTekKes Kemenkes Makassar.
3. Bagi penulis dapat menambah pengetahuan dan keterampilan pada kasus anemia pada ibu hamil.
E. Metode Memperoleh Data
Dalam menyusun makalah inidigunakan dasar teori. Metode yang digunakan adalah sebagai berikut
1. Studi kepustakaan
Mempelajari buku – buku, mengakses data dari internet tentang profil kesehatan yang relevan tentang anemia.
2. Membuat sendiri data (data fiktif ) untuk studi kasus sebagai bahan/contoh pada kasus anemia.
Dengan menggunakan pendekatan proses Manajemen Kebidanan Komprehensif yang meliputi
a) Pengkajian dan analisa data dasar
b) Merumuskan diagnosa dan masalah aktual
c) Merumuskan diagnosa masalah potensial
d) Menilai perlunya tindakan segera
e) Merencanakan tindakan (intervensi)
f) Melakukan tindakan (implementasi)
g) Evaluasi hasil asuhan kebidanan
h) Melakukan dokumentasi
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Definisi
Beberapa pengertian anemia menurut :
1. Anemia adalah penurunan kadar hemoglobin yang di jumpai selama kehamilan pada wanita sehat yang tidak mengalami defisiensi besi atau folat yang di sebabkan oleh penambahan volume plasma yang relative lebih besar dari pada penambahan massa hemoglobin dan volume sel darah. (Cunningham G,2005;h.1463)
2. Anemia didefenisikan sebagai penurunan jumlah sel darah merah atau penurunan konsentrasi hemoglobin dalam sirkulasi darah.anemia yang diterima secara umum adalah kadar Hb kurang dari 12,0 gr/100 ml dan wanita hamil 11,0 g/dl. ( Varney H,2006.;h.623)
3. Anemia didefinisikan sebagai kadar Ht, konsentarsi Hb, atau hitung eritrosit di bawah batas” normal “. Dimana umumnya ibu hamil dianggap anemi jika kadar hemoglobin dibawah 11 gr / dl atau hematokrit kurang dari 33 %.( Prawirohardjo, 2008;h.775)
4. Anemia adalah penurunan kapasitas darah dalam membawa oksigen; hal tersebut dapat terjadi akibat penurunan Sel Darah Merah (SDM), dan / atau penurunan hemoglobin (Hb) dalam darah.
(Fraser Diane dan Cooper A Margaret, 2009;h.328).
5. Anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan kadar Hemoglobin di bawah 11g% pada trimester 1 dan 3 atau kadar <10,5 g% pada trimester 2. (Saifuddin AB, 2007;h.281)
B. Klasifikasi anemia
1. Pemeriksaan dan pengawasan Hb dapat dilakukan dengan menggunakan alat sahli. Hasil pemeriksaan Hb dengan sahli dapat digolongkan sebagai berikut:
a) Tidak anemia dengan Hb lebih dari 11gr%
b) Anemia ringan dengan Hb 9-10gr%
c) Anemia sedang dengan Hb 7-8gr%
d) Anemia berat dengan Hb kurang dari 7gr%
Batasan Anemia (Menurut DEPKES RI)
Kelompok
Batas Normal Haemoglobin
Anak Balita
11 gram %
Anak Usia Sekolah
12 gram %
Wanita Dewasa
12 gram %
Laki-laki Dewasa
13 gram %
Ibu Hamil
11 gram %
Ibu Menyusui > 3 bulan
12 gram %
2. Berdasarkan klasifikasi WHO kadar hemoglobin pada wanita hamil dapat dibagi 3 kategori yaitu (Manuaba, 2002):
1) Anemia Ringan : Kadar Hb 9 – 11 gr%
2) Anemia Sedang : Kadar Hb 7 – 8 gr%
3) Anemia Berat : Kadar Hb < 7 gr%
C. Macam macam anemia
1. Anemia defisiensi besi (62,3%)
Anemia jenis ini berbentuk normositik dan hipokromik di sebabkan oleh kurang gizi (malnutrisi), kurang zat besi dalam diet, malabsorpsi, kehilangan darah yang banyak (persalinan yang lalu, haid, dll)
2. Anemia megaloblastik (29,0%)
Anemia ini berbentuk makrositik, penyebabnya adalah kekurangan asam folik dan kekurangan vitamin B12 tetapi jarang terjadi.
3. Anemia anemia hipoblastik (8,0%)
Anemia jenis ini di sebabkan oleh hipofungsi sumsum tulang, membentuk sel-sel darah merah baru. Untuk itu di perlukan pemeriksaan :
a) Darah tepi lengkap
b) Pemeriksaan fungsi sterna
c) Pemeriksaan retikulosit, dll
4. Anemia hemolitik (0,7%)
Anemia jenis ini di sebabkan penghancuran/pemecahan sel darah nerah yang lebih cepat dari pembuatannya.
D. Etiologi anemia
1. Berdasarkan ukuran sel darah merah ( Varney H,2006.;h.624)
a) Anemia mikrositik (penurunan ukuran sel darah merah)
1) Kekurangan zat besi
2) Talasemia (tidak efektifnya eritropoiesis dan meningkatnya hemolisis yang mengakibatkan tidak ade kuatnya kandungan hemoglobin)
3) Ganguan hemoglobin E (jenis hemoglobin genetik yang banyak di temukan di Asia Tenggara)
4) Keracuanan timah
5) Penyakit kronis (infeksi, tumor)
b) Anemia normositik (ukuran sel darah merah normal)
1) Sel darah merah yang hilang atau rusak meningkat
Kehilangan sel darah merah akut.
2) Gangguan hemolisis darah
(a) Penyakit sel sabit hemoglobin (sickle cell disease)
(b) Ganggauan C hemoglobin
(c) Sterocitosis banyak di temukan di eropa utara
(d) Kekurangan G6PD (glucose-6-phosphate dehi-drogenase)
(e) Anemia hemolitik (efek samping obat)
(f) Anemia hemolisis autoimun
3) Penurunan produksi sel darah merah
(a) Anemia aplastik (gagal sumsum tulang belakang yamg mengancam jiwa)
(b) Penyakit kronis (penyakit hati, gagal ginjal, infeksi, tumor)
4) Ekpansi berlebihan volume plasma pada kehamilan dan hidrasi berlebihan
c) Anemia makrositik (peningkatan ukuran sel darah merah)
1) Kekurangan vitamin B12
2) Kekurangan asam folat
3) Hipotiroid
4) Kecanduan alkohol
5) Penyakit hati dan ginjal kronis
2. Penyebab anemia pada kehamilan (Cunningham G,2005;h.1464)
a) Anemia defisiensi besi
b) Anemia akibat kehilangan darah akut
c) Anemia pada peradangan atau keganasan
d) Anemia megaloblastik
e) Anemia hemolitik
f) Anemia aplastik
g) Anemia Hipoplastik
E. Fisiologi/patologi
1. Fisiologi dan patologi (Wiknjosastro,2006,Hal.448-450)
Selama kehamilan terjadi peningkatan volume darah (hypervolemia) merupakan hasil dari peningkatan volume plasma dan eritrosit (sel darah merah) yang beredar dalam tubuh. Tetapi peningkatan ini tidak seimbang yaitu volume plasma peningkatannya jauh lebih besar sehingga menberikan efek yaitu konsentrasi HB berkurang dari 12 mg/10 ml.
Pengenceran darah (Hemodilusi) pada ibu hamil sering terjadi dengan peningkatan volume plasma 30%-40% peningkatan sel darah merah 18-30 % dan hemoglobin 19 % secara fisiologi hemodilusi untuk mengurangi beban kerja jantung. Hemodilusi terjadi sejak kehamilan 10 minggu dan mencapai puncaknya pada kehamilan 32-36 minggu. bila hemoglobin itu sebelum sekitar 11 gr% maka terjadinya hemodilusi akan mengakibatkan anemia fisiologi dan Hb akan menjadi 9,5 sampai 10 gr%
Senin, 09 Mei 2016
ASUHAN NEONATUS, BAYI, DAN ANAK BALITA
Bayi baru lahir normal
Pengertian
1. Bayi baru lahir (BBL) adalah bayi yang baru mengalami proses kelahiran dan
harus menyesuaikan diri dari kehidupan intra uteri ke kehidupan ekstra uterin
(Jumiarni, dkk, 1994 : 41)
2. Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir dari kehamilan 37 minggu
sampai 42 minggu dan berat badan lahir 2500 gram sampai dengan 4000
gram. (Pusdiknakes, 1993 : 69)
B. Ciri-Ciri Bayi Normal
Menurut (Pusdiknakes, 1993 : 69) adalah sebagai berikut :
1. Berat badan 2500 ± 4000 gram
2. Panjang badan lahir 48 ± 52 cm
3. Lingkar dada 30 ± 38 cm
4. Lingkar kepala 33 ± 35 cm
5. Bunyi jantung dalam menit-menit pertama kira-kira 180x/menit kemudian
menurun sampai 120 ± 140x/menit.
6. Pernafasan pada menit-menit pertama cepat kira-kira 80kali/menit, kemudian
menurun setelah tenang kira-kira 40 kali/menit.
7. Kulit kemerah-merahan dan licin karena jaringan subkutan cukup terbentuk
dan diliputi vernix caseosa.
8. Rambut lanugo telah tidak terlihat, rambut kepala biasanya telah sempurna.
9. Kuku telah agak panjang dan lemas.
10. Genetalia : Labia mayora sudah menutupi labia minora (pada perempuan),
testis sudah turun (pada laki-laki)
11. Reflek isap dan menelan sudah terbentuk dengan baik
12. Reflek moro sudah baik, bayi bila dikagetkan akan memperlihatkan gerakan
seperti memeluk.
2
13. Graff Reflek sudah baik, apabila diletakkan suatu benda diatas telapak tangan
bayi akan menggenggam/adanya gerakan reflek.
14. Eliminasi baik, urine dan mekonium akan keluar dalam 24 jam pertama,
mekonium berwarna hitam kecoklatan.
C. PERUBAHAN YANG TERJADI PADA BAYI BARU LAHIR
Perubahan lingkungan dari kehidupan intra uteri ke lingkungan esktrauterin,
menyebabkan bayi menerima rangsangan yang bersifat kimiawi, mekanik dan
teknik. Hasil perangsangan ini membuat bayi akan mengalami perubahan
metabolik, pernafasan, sikulasi dan lain-lain (Jumiarni, dkk, 1994 : 51 ± 52).
1. Perubahan metabolisme karbohidrat.
Dalam waktu 2 jam setelah lahir akan terjadi penurunan kadar gula darah,
untuk menambah energi pada jam-jam pertama setelah lahir diambil dari hasil
metabolisme asam lemak (Pusdiknakes, 1993 : 70).
Kadar gula darah dapat mencapai 120 mg/100ml. bayi dari ibu yang
menderita DM dan BBLR (Berat Badan Lahir Rendah) perubahan glukosa
menjadi glikogen akan meningkat atau terjadi gangguan pada metabolisme
asam lemak dan tidak dapat memenuhi kebutuhan neonatus, maka
kemungkinan besar bayi akan menderita hipoglikemi (Jumiarni, 1994 : 52).
2. Perubahan suhu tubuh
Segera setelah bayi lahir, bayi akan berada ditempat yang suhu lingkungannya
lebih rendah dari lingkungan dalam rahim, suhu tubuh neonatus normal
berkisar 36,5oC sampai 37oC. Bila bayi dibiarkan dalam suhu kamar
(penguapan), konveksi dan radiasi sebanyak 200 kalori/kg. BB/menit,
sedangkan pembentukan panas yang dapat diproduksi hanya per sepuluh dari
jumlah kehilangan panas diatas, dalam waktu yang bersamaan. Hal ini
menyebabkan penurunan suhu tubuh sebanyak 2oC dalam waktu 15 menit.
Akibat suhu yang rendah metabolisme jaringan akan meningkat dan berakibat
lebih mudah terjadinya asidosis metabolik berat sehingga kesehatan oksigen
meningkat. Selain itu hipotermi pada neonatus dapat menyebabkan
hipoglikemia (Jumiarni, dkk, 1994 : 52).
Minggu, 08 Mei 2016
Pedoman Pengisian Partograf
Partograf adalah alat untuk memantau kemajuan persalinan dan membantu petugas kesehatan dalam menentukan keputusan dalam penatalaksanaan.( saifudin, abdul bari. 2002).
Partograf adalah alat bantu yang di gunakan selama fase aktif persalinan ( depkes RI, 2004).
Menurut depkes RI (2004), tujuan utama dari penggunaan partograf adalah untuk:
1. Mencatat hasil observasi dan kemajuan persalinan dengan menilai serviks melalui pemeriksaan dalam.
2. Mendeteksi apakah proses persalinan berjalan dengan normal. Dengan demikian, juga dapat melakukan deteksi secara dini setiap kemungkinan terjadinya partus lama.
Menurt depkes RI (2004) partograf harus digunakan :
1. Untuk semua ibu dalam fase aktif kala I persalinan sebagai elmen penting asuhan persalinan. partograf harus di gunakan, baik ataupun adanya penyulit.
2. Partograf akan membantu penolong persalinan dalam memantau, menevaluasi dan membuat keputusan klinik baik persalinan normal maupun yang disertai dengan penyulit.
3. Selama persalinan dan kelahiran di semua tempat ( rumah, puskesmas,klinik bidan swasta, rumah sakit,DLL).
4. Secara rutin oleh semua penolong persalinan yang memberikan asuhan kepada ibu sekama pesalinan dan kelahiran ( dr. spesialis obstetric ginekologi, bidan, dokter umum, residen dan mahasiswa kedokteron).
Penggunaan partograf secara rutin akan memastikan para ibu dan bayinnya mendapatkan asuhan yang aman dan tepat waktu. Selain itu juga mecegah terjadinya penyulit yang dapat mengancam keselamatan jiwa mereka.
Mencatat temuan pada partograf :
1. Informasi tentang ibu
Lengkapi bagian awal ( atas ) partograf secara teliti pada saat mulai asuhan persalinan. Waktu kedatangan (tertulis sebagai : “jam” pada partograf) dan perhatikan kemungkinan ibu datang dalam fase laten persalinan catat waktu terjadinya pecah ketuban.
2. Kesehatan dan kenyamanan janin
Kolom,lajur dan skala pada partograf adalah untuk pencatatn DJJ, air ketuban dan penyusupan ( kepala janin ).
a) DJJ
Dengan menggunakan metode seperti yang di urauikan pada bagian pemeriksaan fisik, nilai dan catat DJJ setiap 30 menit ( lebih sering jika ada tanda – tanda gawat janin).
Kisaran normal DJJ terpapar pada partograf di antara garis tebal 180. Tetapi,penolong harus sudah waspada bila DJJ di bawah 120 atau di
b) Warna dan adanya air ketuban
Nilai air ketuban setiap kali di lakukan pemeriksaan dalam, dan nilai warna air ketuban pecah. Catat temuan – temuan dalam kotak yang sesuai di bawah lajur DJJ.
Gunakan – gunakan lambing berikut ini :
Ø U : ketuban utuh (belum pecah)
Ø J : ketuban sudah pecah dan air ketuban jernih
Ø M : ketuban sudah pecah dan air ketuban bercampur mekonium
Ø D : ketuban sudah pecah dan air ketuan bercampur darah
Ø K :ketuban sudah pecah dan tidak ada air ketuban (“kering”)
c) Molase (penyusupan kepala janin)
Penyusupan adalah indicator penting tentang seberapa jauh kepala bayi dapat menyesuaikan diri dengan bagian keras panggul ibu. Tulang kepala yang saling menyusup atau tumpang tindih, menunjujkan kemungkinan adanya Chepalo Pelvic Disporportion (CPD). Ketidakmampuan akomodasi akan benar – benar terjadi jika tulang kepala yang saling menyusup tidak dapat di pusahkan. Apabila ada dugaan disproporsi tulang panggul, penting sekali untuk tetap memantau kondisi janin dan kemajuan persalinan. Lakukan tindakan pertolongan awal yang sesuai dan rujuk ibu tangan tanda – tanda disproporsi tulang panggul ke fasilitas kesehatan yang memadai. Gunakan lambing lambing berikut :
0 : tulang – tulang kepala janin terpisah, sutura dengan mudah dapat di palpasi.
1 : tulang – tulang kepala janin hanya saling bersentuhan.
2 : tulang – tulang kepala janin saling tumpang tindih, tapi masih dapat di pisahkan.
3 : tulang – tulang kepala janin saling tumpang tindih da tidak dapat dipisahkan
3. Kemajuan persalinan
Menurut Depkes (2004), kolom dan lajr kedua pada partograf adalah untuk pencatatan kemajuan persalinan.
a) Pembukaan serviks
Dengan menggunakan metode yang di jelaskan di bagian pemeriksaan fisik dalam bab ini, nilai dan catat pembukaan serviks setiap 4 jam (lebih sering di lakukan jika ada tanda – tanda penyulit). Saat ibu berada dalam fase aktif persalinan, catat pada partograf hasil temuan dari setiap pemeriksaan. Tanda “X” harus di tulis digaris waktu yang sesuai dengan jalur besarnya pembukaan serviks. Beri tanda untuk temuan – temuan dari pemeriksaan dalam yang di lakukakn pertama kali selama fase aktif persalinan di garis waspada. Hubungkan tanda “X” dari setiap pemeriksaan dengan garis utuh (tidak terputus).
b) Penurunan bagian terbawah atau presentasi janin.
Dengan menggunakan metode yang di jelaskan di bagian fisik bab ini. Setiap kali melakukan pemeriksaan dalam(setiap 4 jam), atau lebih sering jika ada tanda – tanda penyulit, nilai dan catat turunnya bagian terbawah atau presentasi janin.
Pada persalinan normal, kemajuan pembukaan serviks umumnya di ikuti dengan turunnya bagian terbawah/presentasi janin baru terjadi setelah pembukaan serviks sebesar & cm.
c) Garis waspada dan garis bertindak
Garis waspada di mulai pada pembukaan serviks 4 jam cm dan berakhir pada titik dimana pembukaan 1 cm per jam. Pencatatan selama fase aktif persalinan harus di mulai di garis waspada. Jika pembukaan serviks mengarah ke sebelah kanan garis waspada. Jika pembukaan serviks mengarah ke sebelah kanan garis waspada (pembukaan kurang dari 1 cm per jam), maka harus di pertimbangkan adanya penyulit (misalnya fase aktif yang memanjang, macet, dll). Pertimbangkan pula adanya tindakan intervensi yang di perlukan, misalnya persiapan rujukan ke fasilitaskesehatan rujukan (rumah sakit atau puskesmas) yang mampu menangani penyulit dan kegawat daruratan obsetetri. Garis bertindak tertera sejajar dengan garis waspada, dipisahkan oleh 8 kotak atau 4 lajur ke sisi kanan. Jika pembukaan serviks berada di sebelah kanan bertindak, maka tindakan untuk menyelesaikan persalinan harus dilakukan. Ibu harus tiba di tempat rujukan sebelum garis bertindak terlampui.
4. Jam dan waktu
a) Waktu mulainya fase aktif persalinan
Di bagian bawah partograf (pembukaan serviks dan penurunan) tertera kotak – kotak yang di beri angka 1-16. Setiap kotak menyatakan waktu satu jam sejak dimulainnya fase aktif persalinan.
b) Waktu aktual saat pemeriksaan dilakukan
Di bawah lajur kotak untuk waktu misalnya fase aktif, tertera kotak – kotak untuk mencatat waktu aktual saat pemeriksaan dilakukan. Setiap kotak menyebabkan satu jam penuh dan berkaitan dengan dua kotak waktu 30 menit pada lajur kotak di atasnya atau lajur kontraksi di bawahnya. Saat ibu masuk dalam fase aktif persalinan, catatkan waktu aktual pemeriksaan ini di kotak waktu yang sesuai.
5. Kontraksi uterus
Di bawah lajur waktu partograf terdapat lima lajur kotak dengan tulisan “kontraksi per 10 menit” di sebelah luar kolom paling kiri. Setiap kotak menyatakan satu kontraksi.
Setiap 30 menit, raba dan catat jumlah kontraksi dalam 10 menit dengan mengisi angka pada kotak yang sesuai.
6. Obat – obatan dan cairan yang di berikan
Di bawah lajur kotak observasi kontraksi uterus tertera lajur kotak untuk mencatat oksitosin, obat – obat lainnya dan cairan IV.
a. Oksitosin
Jika tetesan (drip) oksitosin sudah di mulai, dokumentasikan setiap 30 menit jumlah unit oksitosin yang di berikan per volume cairan IV dan dalam satuan tetesan per menit.
b. Obat – obatan lain dan cairan IV
catat semua pemberian obat – obatan tambahan dan atau cairan IV dalam kotak yang sesuai dengan kolom waktunya.
7. Kesehatan dan kenyamanan ibu
Bagian terakhir pada lembar depan partograf berkaitan dengan keehatan dan kenyamanan.
a. Nadi, tekanan darah, dan temperature tubuh.
Angka di sebelah kiri bagian partograf ini berkaitan dengan nadi dan tekanan darah ibu.
(1) Nilai dan catat nadi ibu setiap 30 menit selama fase aktif persalinan.
(2) Nilai dan catat tekanan darah ibu setiap 4 jam selama fase aktif persalinan.
(3) Nilai dan catat temperature tubuh ibu (lebih sering jika meningkat, atau di anggap adanya infeksi) setiap 2 jam dan catat temperature tubuh dalam kotak yang sesuai.
b. Volume urine, protein atau aseton
Ukur dan catat jumlah produksi urine ibu sedikitnya setiap 2 jam ( setiap kali ibu berkemih).
8. Asuhan, pengamatan dan keputusan klinik lainnya
Catat semua asuhan lain, hasil pengamatan dan keputusan klinik disisi luar kolom partograf, atau buat catatan terpisah tentang kemajuan persalinan. Cantumkan juga tanggal dan waktu saat membuat catatan persalinan.
Asuhan, pengamatan dan keputusan klinik mencakup :
a. Jumlah cairan peroral yang di berikan.
b. Keluhan sakit kepala atau penglihatan (pandangan) kabur.
c. Konsultasi dengan penolong persalinan lainnya (dokter obsgyn, bidan, dokter umum).
d. Persiapan sebelum melakukan rujukan.
e. Upaya rujukan.
Pencatatan pada lembar belakang partograf :
Halaman belakang partograf merupakan bagian untuk mencatat hal – hal yang terjadi selama proses persalinan dan kelahiran, serta tindakan – tindakan yang di lakukan sejak pesalinan kala I hingga IV (termasuk bayi baru lahir). Itulah sebabnya bagian ini di sebut sebagai catatn persalinan. Nilai dan catatkan asuhan yang di berikan pada ib u dalam masa nifas terutama selama persalinan kala IV untuk memungkinkan penolong persalinan mencegah terjadinya penyulit dan membuat keputusan klinik yang sesuai. Dokumentasi ini sangat penting untuk membuat keputusan klinik, terutamam pada pemantaun kala IV (mencegah terjadinya perdarahan pasca persalinan). Selain itu, catatan persalinan( yang sudah di isi dengan lengkap dan tepat) dapat pula di gunakan untuk menilai atau memantau sejauh mana telah di lakukan pelaksanaan asuhan persalinan yang bersih dan aman.
Langganan:
Postingan (Atom)